Jumat, Juli 10, 2026
BerandaUncategorizedKetua PWI-LS Solo Tekankan Pentingnya Nilai Kebangsaan Dalam Perjuangan

Ketua PWI-LS Solo Tekankan Pentingnya Nilai Kebangsaan Dalam Perjuangan

INewsID.Com- Di tengah ancaman perpecahan akibat penjajahan paradigma, pengaburan sejarah dan pemalsuan makam makam kuna, organisasi Perjuangan Walisongo Indonesia- Laskar Sabillilah (PWI-LS) hadir berdiri menjadi benteng bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai ormas Islam yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kearifan, PWI-LS bukan hanya di cetak untuk misi perjuangan, namun juga mengemban ajaran siar walisongo yang mengedepankan dakwah rahmatan lilalamin lewat budaya dan kearifan daerah di Nusantara, demikian di tegaskan oleh RT Sudrajat Dwijo Dipuro, Ketua PWI-LS Kota Surakarta sekaligus tokoh muda NU asal Solo.

Visi dan misi PWI-LS bukan hanya sekedar menyadarkan masyarakat dari perbudakan agama yang di lakukan oleh para oknum dan kelompok masyarakat mengatasanamakan keturunan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga perjuangan yang jauh lebih besar untuk kebangsaan.

Oleh sebab itu sebagai anggota PWI-LS kita harus sudah selesai dengan diri kita sendiri, terkait persoalan toleransi dalam beragama dan berkebudayaan.

Menjunjung tinggi budaya dan kearifan local yang ada di tengah masyarakat. Tidak memandang syirik dan sesat budaya local, tanpa pernah mau memahami makna dan pengetahuan budaya itu sendiri.

Sebagai anak bangsa kita harus memahami, bahwa negara ini ada karena jalinan persatuan ratusan suku dan budaya local di Nusantara. Bangsa ini kuat karena keragaman budaya local. Bangsa ini memiliki jatidiri karena budaya local.

Perjuangan PWI-LS bukan sekedar hanya diskursus nasab, tetapi perjuangan kebangsaan di dalam menentang ideologi dan nilai nilai yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Meski di akui oleh Sudrajat, di setiap organisasi pergerakan pasti sarat dengan konflik dan kepentingan. Apalagi di dalam organisasi sebesar PWI-LS yang sudah memiliki cabang Istimewa di berbegai negara, tentu banyak tantangan dan konflik internal kepentingan.

Dari sejawat bisa menjadi pengkhianat, dari lawan bisa menjadi kawan. Belum lagi mereka yang mencari panggung dan kepentingan untuk dirinya sendiri.

Semua itu bisa di lalui jika kita semua mengedepankan visi dan misi anggaran dasar, anggaran rumah tangga yang menjadi rel dalam menyatukan perbedaan berorganisasi.

Tidak memaksakan kehendak, memahami tupoksi yang di amanatkan oleh organisasi, tidak asal tabrak kesana kemari mencari panggung.

Ini penting di tekankan untuk membangun kesadaran organisasi, jelasnya.

Sebagai organisasi islam yang mengedepankan kearifan agama dan budaya, PWI LS harus memahami kondisi bangsa di tengah situasi geo politik global, serta hantaman ideologi asing yang merusak melalui informasi bebas di internet.

Isu nasab hanyalah bagian kecil dari sebuah kepentingan yang jauh lebih besar. Pembelokan sejarah, pemalsuan makam, doktrin agama, adalah cara bagaimana mereka para penjajah menyetir masyarakat kita agar mudah di pengaruhi dan tunduk menjadi budak.

Sebagai masyarakat religius para penjajah memahami, bahwa hanya dengan isu agama mereka bisa masuk melakukan doktrin dan menyetir pola pikir bangsa ini agar mudah di kendalikan.

Tak hanya masyarakat saja yang menjadi korban doktrin sesat,  para pejabat dan apparat tanpa mereka sadari juga banyak yang terdoktrin atas nama kesucian agama.

Oleh sebab itu sebagai garda perjuangan pengikut ajaran Walisongo, PWI-LS harus kuat dalam menjaga persatuan dan kesatuan.

Sebab perjuangan menjaga kesucian agama dan budaya lokal ini bukan untuk generasi sekarang, tetapi untuk anak cucu kita di masa yang akan datang.

Sekaligus menjaga nilai karakter jatidiri bangsa yang berbudaya, adi luhung dan berbudi pekerti, pungkasnya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments