INewsID.Com-Perayaan qurban atau Idul Adha, setiap tahun di peringati oleh umat muslim di seluruh dunia, tak terkecuali Bangsa Indonesia yang mayoritas mereka beragama Islam.
Perayaan Idul adha bukan sekedar wujud ketaqwaan umat muslim, namun juga bentuk ungkapan rasa syukur atas nikmat Tuhan yang sudah di berikan.

Oleh karena itu sebagai wujud rasa syukur atas nikmat tersebut, umat muslim menyembelih hewan qurban yang nantinya daging dari hewan qurban tersebut akan di bagi bagikan kepada masyarakat kurang mampu.
Di Solo perayaan Idul Adha lebih dulu di awali dengan sholat ied berjamaah, selanjutnya mereka menyembelih hewan qurban kambing maupun sapi di masjid atau tempat yang sudah di siapkan.

Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447H juga di peringati oleh ormas Islam Perjuangan Walisongo Indonesia Kota Surakarta, bersama dengan jamaah Masjid Alfatah, Debengan, Mojosongo, Solo.
‘ Tahun ini Masjid Alfatah menyembelih hewan qurban berupa 4 ekor sapi di tambah beberapa ekor kambing’ Jelas Imam Zazuli,  Kasepuhan Pengurus Daerah Perjuangan Walisongo Indonesia Kota Surakarta yang juga takmir Masjid Alfatah, Mojosongo, Jabres, Solo.
Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan tersebut bagian dari membangun rasa kebersamaan sesama umat muslim antara PWI-LS Kota Surakarta dengan umat, sekaligus membumikan peran jamiyah Perjuangan Walisongo Indonesia Kota Surakarta di tengah masyarakat.
Perjuangan Walisongo Indonesia Kota Surakarta dalam hal ini imbuh Imam Zazuli, tidak hanya konsen pada upaya pelestarian sejarah dan budaya, namun juga memberikan kontribusi sosial keagamaan di berbagai kegiatan yang ada.
Oleh karena itu kebersamaan ini patut kita apresiasi, sebab hanya dengan kebersamaan kita akan menjadi kuat.
Senada dengan Kasepuhan, ketua Perjuangan Walisongo Indonesia Kota Surakarta RT Sudrajat Kentas Pribadi menyampaikan, pentingnya jamiyah hadir di tengah umat untuk mengenalkan dan membumikan siar islam sejalan dengan ajaran walisongo.
Hari ini kita hanya mengenal slogan siar walisongo, namun secara implementasai apa yang mereka lakukan sebenarnya jauh dari siar tersebut. Kita kerap terjebak pada narasi namun kenyataanya sungguh jauh berbeda.
Walisongo menjaga budaya dan gotong royong, sementara hari ini banyak yang mengaku pewaris tetapi tidak memahami nilai ajaranya.
Banyak yang mengaku keturunan tetapi tidak mengenal Sejarah dan budayanya.
Walisongo menjaga nilai kearifan local, sementara mereka yang mengaku tidak mengenal apa itu kearifan local.
Walisongo menjunjung tinggi budaya lokal, sementara mereka yang mengaku penerus ajaranya malah menjunjung tinggi budaya asing.
Semua hal yang bertolak belakang ini harus kita pahamkan, agar masyarakat benar benar memahami siar walisongo yang mengedepankan budaya local, bukan budaya luar.


