Sabtu, Juli 25, 2026
BerandaBudayaRaibnya Patung Garuda Di Pringgondani: Sastra Sandi Apakah Negeri Ini Akan Bubar?

Raibnya Patung Garuda Di Pringgondani: Sastra Sandi Apakah Negeri Ini Akan Bubar?

INewsID.Com – Viral di media sosial raibnya patung burung Garuda di Pertapaan Pringgondani yang memicu kecaman berbagai pihak, serta warga masyarakat yang bermukim di sekitar Pertapaan Pringgondani untuk menuntut aparat kepolisian mengusut tuntas dan menangkap pelaku aksi pencurian.

Tokoh Spiritual IA Joko Suyanto / Foto : InewsID.Com

Patung garuda yang hilang tersebut berbahan baku besi tembaga dengan posisi menginjak dunia atau globe yang di letakan di pinggir tangga menuju Sanggar Pertapaan.

Menurut keterangan mantan Kepala Dinas Kabupaten Karanganyar, IA Joko Suyanto, sekaligus tokoh spiritual yang menggagas berdirinya patung Garuda Pancasila di Pertapaan Pringgondani, bahwa pembangunan patung garuda tersebut tak lepas dari sejarah panjang petunjuk yang dia terima bersama para tokoh spiritual lain.

Patung Garuda tersebut sebagai symbol kewibawaan bangsa yang harus di jaga.

Oleh karena itu mantan Kepala Dinas Pariwisata Karanganyar yang pernah di menjabat sebagai ketua paguyuban Bowo Roso Tosan Aji ini mengungkapkan, bahwa peritiwa tersebut merupakan sastra sandi atau pralambang alam dari semakin menurunya kewibawaan bangsa atas semakin hilangnya Ideologi negara kita saat ini.

Jika demikian adanya, maka negara ini bisa bubar karena tak lagi memiliki ideologi dasar sebagai pegangan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Hilangnya patung Garuda di Pertaapaan Pringgondani bagi Joko Suyanto tidak bisa dimaknai hanya peristiwa pencurian saja, karena peristiwa tersebut berada di punjer kebudayaan spiritual Nusantara.

Sehingga banyak nilai sastra sandi yang disampaikan alam pada peristiwa tersebut harus bisa kita tangkap dan maknai.

Apalagi proses berdirinya patung garuda juga sarat dengan makna spiritual, yang kala itu Walikota Solo di jabat oleh Joko Widodo dan Mardiyanti selaku Gubernur Jawa Tengah.

Sejarah patung garuda di Pringgondani.

Berdirinya patung garuda di Pringgondani di kisahkan oleh IA Joko Suyanto yang waktu itu dirinya masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar pada saat menghadiri pekan pariwisata Soloraya yang berlangsung di Sriwedari, Solo.

Pada saat Mardiyanto menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah, ia bersama Walikota Solo Joko Widodo dan Gubernur Jawa Tengah berada pada satu mobil yang sama saat hendak meresmikan acara tersebut di Sriwedari, Solo.

Saat itu dirinya menyampaikan kepada Walikota Joko Widodo perihal keinginanya mengganti patung jago yang di rusak oleh orang tidak bertanggung jawab dengan patung garuda. Perusakan tersebut di duga berkaitan dengan anggapan budaya laku spiritual di Pringgondani yang di nilai syirik oleh sebagian orang.

Penggantian patung di katakan hasil dari petunjuk spiritual yang dia terima waktu itu.

Saat di sampaikan di dalam mobil, Gubernur Mardiyanto menyanggupi membantu mewujudkan pembangunan patung tersebut sebagai symbol kewibawaan bangsa dan negara. Atas kesediaan Gubernur Mardiyanto, akhirnya di buatlah patung burung Garuda yang di lehernya berkalung perisai bergambar lima sila berdiri mencengkeram di atas globe dunia, sebagai symbol kewibawaan bahwa kedepan Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa besar yang mampu memimpin dunia.

Atas kesanggupan Gubernur Mardiyanto membangun patung garuda di pertapaan Pringgondani, Joko Suyanto menyampaikan petunjuk yang di dapat jika orang nomor satu di Jawa Tengah ini mudah mudahan mendapatkan ganti dari apa yang sudah dia sumbangsihkan untuk para leluhur.

Meski saat itu Gubernur Mardiyanto menyangkal sulit bagi dia naik jabatan lagi di atas Gubernur karena sudah dua kali menjabat, namun rupanya takdir berkehendak lain.

Tak selang lama usai dia menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto di minta menjadi pembantu Presiden sebagai Menteri Dalam Negeri.

Peristiwa ini ujar IA Joko Suyanto bukan suatu hal yang terjadi secara kebetulan, namun memang demikian dalam sebuah petujuk spiritual, bahwa semua itu bisa terjadi karena kekuasaan Tuhan yang berkenan memberikan berkah kederajatan atas sebuah keihklasan yang sudah di berikan.

Berbagai pengalaman spiritual terjadi selama Pembangunan patung garuda di wujudkan.

Bahkan ketika patung tersebut akan di pasang di Kawasan Pertapaan Pringgondani, terjadi peristiwa aneh saat langit cuaca cerah tiba tiba tertutup mendung, namun tepat di atas tempat burung garuda terpasang, Cahaya sinar matahari dari atas menyorot turun kebawah tepat pada burung garuda.

Sinar tersebut oleh Joko Suyanto bersama para tokoh spiritual yang ada di maknai sebagai Cahaya Buwana atau sinar dunia. Satra sandi atau petunjuk sebuah makna bahwa akan ada sesuatu hal yang besar kelak akan terjadi pada negeri ini.

Petunjuk cahaya buwana yang di terima sekaligus berkaitan dengan keinginan Paguyuban Bowo Roso Tosan Aji yang saat itu berkeinginan membuat beberapa keris pusaka di peruntukan kepada para tokoh bangsa antara lain, Wiranto, Jusuf Kalla hingga Joko Widodo.

Selama perjalanan pembuatan hingga berdirinya patung garuda, banyak sastra sandi di terima Joko Suyanto diantaranya petunjuk sosok Walikota Solo yang ada dalam petunjuk utama sastra sandi. Tak kecuali bahan baku keris pusaka yang di ambil dari Timur Tengah dan Asia, semua juga berdasarkan atas petunjuk sastra sandi.

Oleh karena itu pembuatan keris pusaka lantas di focus utamakan untuk Walikota Solo, yang saat itu di aspirasikan banyak kalangan maju sebagai Gubernur dan sukses melenggang menjadi DKI 1.

Perjalanan spiritual berkaitan dengan patung garuda yang hilang tersebut bagi Joko Suyanto bukan peristiwa yang berlangsung secara kebetulan.

Bahkan sampai hari ini dirinya meyakini, jika semua itu bagian dari perlambang atau tanda tanda alam yang di berikan untuk bangsa terkait berbagai persoalan yang ada saat ini.

Sebagai orang jawa, setiap peristiwa dan perubahan alam yang terjadi harus bisa di tangkap dan di urai sastra sandinya, agar kita bisa mawas diri, eling lan waspada terhadap segala hal. Baik yang akan terjadi maupun yang sudah terjadi.

Joko Suyanto berharap apparat dapat mengungkap motif pencurian tersebut karena factor ekonomi atau factor lain yang mengarah pada tindakan inteloren.

Kerua PLKJ UNDHA AUBSurakarta, Dr. Anggoro Panji, Nugroho, M.M / Foto: INewsID.Com

Terpisah, Ketua Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa, Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M mengatakan, terlepas dari unsur pencurian, tindakan tersebut tidak hanya merusak kawasan situs spiritual tetapi juga kearifan lokal.

Oleh karena itu PLKJ meminta kepada pihak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas  pelaku pencurian patung garuda di Pringgondani.

Sekaligus meminta kepada pihak pengelola dalam hal ini perhutani maupun dinas pariwisata Kabupaten Karanganyar, untuk memaksimalkan keamanan di kawasan Pertapaan Pringgondani.

Anggoro beralasan, Pringgondani bukan hanya situs spiritual, tetapi juga kawasan konservasi alam yang harus di jaga, sehingga pemerintah seharusnya sudah menjadikan kawasan tersebut sebagai taman nasional gunung lawu agar  mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

Sebagai tempat laku spritual, Pertapaan Pringgondani tidak hanya menyimpan sejarah peradaban budaya bangsa berkaitan dengan adat, tradisi dan kearifan lokal, tetapi juga ruang ekosistem bagi berkembngnya flora dan fauna yang senantiasa harus di jaga dan di lindungi.

 

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments