INewsID.Com- Ratusan seniman dan pegiat seni budaya rencananya akan menggelar kirab budaya pada Minggu pagi (26/7/26) di Car Free Day (CFD)untuk menyalurkan aspirasi dan memberikan dukungan pembangunan Gedung Kesenian dan Kebudayaan di Kota Surakarta.

Pasalnya sampai detik ini Pemkot Surakarta belum memiliki Gedung Kesenian dan Kebudayaan atau ruang khusus untuk para seniman menyalurkan bakat kreatifitasnya berolah seni.
Cimot, salah satu seniman music asal Solo saat di temui di salah satu kedai membenarkan hal tersebut.
Ia bersama para komunitas seni yang lain juga mengeluhkan tidak adanya fasilitas penunjang sarana dan prasarana dari pemerintah Kota Surakarta untuk para seniman di Kota Solo.
Selama ini di akuinya para seniman music hanya di berikan ruang di pinggir jalan pada setiap akhir pekan di Kawasan Gatsu dan Ngarsopuro, sehingga di katakan masih sangat jauh dari kata layak.
Pasalnya dalam sebuah pementasan music, penatan panggung dan sound system menjadi hal penting yang harus di perhatikan.
Tidak bisa kreatifitas music hanya di pentaskan ala kadarnya. Sebab sebaik apapun karya music tersebut jika hanya di pentaskan di pinggir jalan maka ia hanya akan menjadi tontonan jalanan, bukan sebuah perfom music.
Oleh sebab itu tak dipungkiri jika para seniman music asal Solo sulit berkembang di daerahnya sendiri akibat ketiadaan dukungan dari Pemerintah Kota Surakarta, baik soal pembinaan maupun sarana dan prasarana.
Hal itu di perparah lagi dengan adanya ketidak berpihakan para pelaku event terhadap musisi local. Mereka kerap memakai pemusik asal luar daerah ketimbang Musisi dari Solo.
Setiap kali event music bertaraf nasional maupun internasional bukan band local yang ditunjuk sebagai band pembuka, justru mereka yang berasal dari luar daerah di berikan ruang untuk pentas.
Ini sungguh sangat ironis sekali , tegasnya.
Senada dengan Cimot, Ketua Umum Forum Budaya Mataram, Dr. BRM Kusumo Putro, S.H,.M.H, mendukung terwujudnya Gedung kesenian dan kebudayaan di Kota Solo.
Gedung tersebut adalah ruang hidup untuk mengembangkan kreatifitas seni dan budaya, sekaligus dapat menjadi pusat penelitian, pembelajaran dan pengembangan seni daerah di Kota Solo.
Sebagai Kota Budaya, Solo ucap Kusumo, tidak hanya pusat kesenian dan kebudayaan baik adat dan tradisi, Â tetapi juga memiliki music asli daerah seperti keroncong, campursari, kidung jawa dan aliran music lainya.
Bahkan banyak Musisi dan penyanyi kondang lahir dari Solo, seperti Didi Kempot, Waljinah , Gesang dan para penyanyi kondang lainya.
Gedung Kesenian tegas Kusumo sangat di perlukan, mengingat Solo sebagai Kota Budaya tentu harus memiliki tempat untuk mengembangkan kreatifitas seni yang ada di tengah masyarakat.  Apalagi banyak seniman dari berbagai aliran seni terkendala potensi bakat mereka, akibat keterbatasan sarana dan prasarana yang ada di Kota Solo.
Desakan Pembangunan Gedung Kesenian dan kebudayaan bukan hanya atas dasar keinginan masyarakat, tetapi juga kebutuhan Pembangunan kota yang berpijak pada akar budaya.
Walikota Solo ucap Ketua FBM, harus menyadari dan memahami kultur masyarakat Solo yang tak bisa lepas dari aktifitas seni budaya.
Oleh karena itu desakan para pegiat seni budaya kepada Walikota Solo untuk membangun Gedung kesenian adalah juga bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang berpijak pada nilai luhur kearifan local.
Apalagi di tengah krisis identitas dan karakter bangsa seperti sekarang ini, budaya dan kearifan harus di jaga dan di kembangkan, agar generasi muda tetap memiliki karakter jatidiri sebagai generasi yang berbudi pekerti luhur.
Menilik Sejarah Solo sebagai Kota Budaya, tentu tak bisa di lepaskan dari sejarah panjang peradaban yang berakar pada budaya jawa di Nusantara.
Akar budaya tersebut di perkuat dengan adanya dua pewaris dinasti Mataram Islam yaitu, Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran yang sampai saat ini masih Lestari di Kota Surakarta.
Selama berabad abad peradaban budaya yang ada di Kota Solo berkembang dari jaman ke jaman tidak hanya adat dan tradisi, tetapi juga mengalami metamorphosis seni kreasi tidak hanya lewat dunia pendidikan, tetapi juga sanggar dan para komunitas seni budaya yang ada di tengah masyarakat. .
Gedung kesenian bukan sekedar fasilitas fisik, melainkan ruang hidup bagi kebudayaan itu sendiri untuk melahirkan ide dan gagasan, sekaligus laboratorium bidang seni budaya agar bisa di uji dan di kembangkan.
Penyedian ruang kesenian juga akan mendorong lahirnya kreatifitas masyarakat untuk kepentingan seni pertunjukan tanpa meninggalkan ciri asli budayanya.
Pembangunan Gedung Kesenian di harapkan akan mampu mendorong pendapatan asli daerah melalui berbagai event pementasan seni budaya kelas nasional maupun internasional.
Dengan semakin berkembangnya seni budaya di Kota Solo, sektor pariwisata secara otomatis juga akan berkembang sekaligus memperkuat brand  Solo sebagai Kota Budaya, pungkasnya. / Djk


