INewsID.ComPeringatan bukan sekedar untuk mengenang jasa baik yang sudah di tinggalkan, akan tetapi lebih dari itu, peringatan juga salah satu benteng pertahanan terbaik dalam mempertahankan nilai nilai sebuah kearifan.
Sekecil apapun bentuk dan cara peringatan tersebut, namun akan memiliki makna besar yang dapat kita ambil di kemudian hari.
Peringatan adalah tempat untuk mengenang sejarah masa lalu, sekaligus mengambil nilai dan manfaat untuk masa depan.
Oleh karena itu para leluhur bangsa ini senantiasa memberikan pesan ‘ jas merah’, jangan sekali kali melupakan sejarah. Sebab sejarah adalah bagian dari masa depan kehidupan. Perjalanan kehidupan sebuah bangsa tak lepas dari sejarah masa lalu.
Sejarah adalah memori catatan baik buruk kehidupan masa lalu yang dapat kita ingat sebagai sebuah pelajaran hidup. Mengambil nilai kebaikan dan meninggalkan keburukan melalui ‘mikul duwur mendhem jero’, demikian di sampaikan oleh RT Sudrajat Dwijodipuro, Ketua Perjuangan Walisongo Indonesia –Laskar Sabilillah (PWI-LS) Kota Surakarta pada acara peringatan Haul ke 2 Leluhur Surakarta atau Haul Surakarta.
Acara haul yang di gelar di Kampung Jantirejo, Sondakan, Laweyan, Solo tersebut di hadiri warga sekitar melalui kemasan sederhana namun tanpa meninggalkan esensi nilai yang ada.
Selain kirim doa untuk para leluhur, PWI-LS Kota Surakarta juga menggelar doa tolak balak melalui tembang dan suluk macapat, agar bangsa Indonesiaa di jauhkan dari bencana, perpecahan dan di satukan erat dalam ikatan Bhinneka Tunggal Ika.
Ketua PWI-LS Kota Surakarta menyampaikan pentingnya bangsa Indonesia menjaga budaya dan sejarah bangsa. Selama ini di akuinya, bahwa masyarakat tanpa sadar di jajah melalui pola pikir dan perbudakan spiritual mengatasnamakan kesucian agama dan mengaku anak cucu nabi.
Padahal mereka tandas dia, adalah para pendatang luar yang sengaja melakukan kolonialisme terhadap sejarah dan budaya.
Untuk itu di tekankan pentingnya menjaga sejarah dan budaya bangsa. Sebab jika hari ini penjajahan dan perusakan sejarah tidak kita tangkal, maka lima puluh tahun kedepan anak cucu kita tidak akan mengetahui leluhur dan sejarah dirinya sendiri.
Apalagi generasi muda sekarang lebih banyak mencari sumber literasi di internet. Jika sumber tersebut di penuhi sampah hoak sejarah, maka dapat di pastikan generasi kita akan beranggapan merekalah (para pendatang dari luar) pemilik negeri ini.
Apalagi dengan adanya pemalsuan sejarah kemerdekaan, membangun makam makam palsu dan membuat narasi adu domba dengan dalih agama.
Bagi masyarakat yang tidak sadar mereka di anggap para pejuang yang memerdekakan bangsa Indonesia. Makam palsu di jadikan jejak leluhur palsu di negeri orang. Adu domba di jadikan alat memecah belah sesama anak bangsa, padahal merekalah yang memainkan narasi politik adu domba.
Devide et impera adalah politik usang yang harus kita waspadai, jangan sampai bangsa ini terjebak kolonialisme pola pikir hanya karena janji kunci surga.
Kita harus sadar keluhuran Bangsa Nusantara maju dan modern jauh sebelum bangsa lain di dunia maju. Kekayaan sumber daya alam yang berlimpah ruah juga menjadi salah satu factor penyebab bangsa ini di jajah secara halus baik dari luar maupun dari dalam.
Sejarah dan kearifan adalah benteng pertahanan karakter dan jatidiri bangsa Nusantara. Jika kita ingin menjaga persatuan dan perbedaan menjadi sebuah kekuatan, maka kearifan dan budaya yang ada dalam Bhinneka Tunggal Ika harus di jaga dan di pertahankan, menjunjung tinggi nilai keluhuran, etika dan sopan santun.
Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menjaga sejarah dan kearifan budayanya sendiri.

