INewsID.Com-Memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April bukan saja di lakukan untuk mengenang dan mengingat jasa besar Raden Ajeng Kartini dalam berjuang menghapus kebodohan kaum Perempuan, akan tetapi lebih dari itu semangat perjuangan RA Kartini sampai hari ini harus terus kita tumbuhkan.
Jika semangat perjuangan itu dulu di lakukan untuk kesetaraan gender dan menghapus kebodohan kaum Perempuan, sekarang semangat perjuangan itu kita gunakan untuk menghapus kebodohan paradigma dan pola pikir, demikian di sampaikan oleh Ketua Perjuangan Walisongo Indonesia Kota Surakarta, RT Sudrajat Dwijodipuro.
Tantangan perubahan zaman yang begiitu pesat tentu berpotensi merusak perkembangan kehidupan yang ada, serta harus kita waspadai. Disrupsi terknologi bukan saja akan menghilangkan nilai kearifan yang ada di Tengah masyarakat, namun juga merusak pola pikir masyarakat bangsa ini akibat derasnya informasi bebas di internet.
Perbudakan pola pikir akan menjadi persoalan krusial yang perlu kita waspadai bersama.
Oleh karena itu melalui semangat perjuangan RA Kartini, kita harus berani menghadapi tantangan tersebut. Rakyat Indonesia adalah bangsa pejuang yang dikenal gagah berani berjuang.
Sejarah mencatat bangsa ini tidak pernah sepi dari penjajahan. Begitu juga sebaliknya, di setiap masa penjajahan juga akan lahir para tokoh pejuang. Bukan sebuah kebetulan jika Tuhan memberikan anugerah bangsa Indonesia kelimpahan kekayaan sumber daya alam beserta tantangan dan ujian yang ada di dalamnya.
Mereka (penjajah) yang ingin menguasai Indonesia tidak hanya menjajah melalui kekuatan senjata, namun juga mengadu domba, merusak maindset, perbudakan spiritual, konflik politik, sosial dan budaya.
Semua itu tanpa kita sadari membuat persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia terpecah belah. sehingga mudah di adu domba dan melupakan sejarah budaya bangsa.
Sebagai negara yang berada di jalur garis katulistiwa, Indonesia bukan saja kaya sumber daya alam, namun keluhuran dan kekayaan budaya masyarakat kesukuan dapat menjadi kekuatan menangkal penjajah jika bangsa ini mau kembali pada jati dirinya.
Memperkuat Pancasila sebagai ideologi negara dan berpegang teguh pada Undang Undang Dasar 1945 di setiap langkah kebijakan yang di ambil oleh Pemerintah.
Menguatkan Kembali nilai nilai kearifan di Tengah masyarakat. Memperkuat peran negara dalam mengatur keyakinan untuk menangkal maraknya ideologi kekerasan dan kebebasan. Mengembalikan kurikulum Pendidikan seperti yang pernah di terapkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantoro.
Satu keironisan sejarah di negeri ini. Ki Hajar Dewantoro di kenal sebagai bapak Pendidikan Indonesia, namun ajaran dan falsafah Pendidikan yang pernah dia tanamkan sama sekali tidak ada dalam kurikulum pendidikan kita.
Padahal ajaran falsafat tersebut sampai saat ini masih tepat kita gunakan dalam dunia Pendidikan kita.
Apalagi di Tengah situasi dan kondisi bangsa seperti sekarang ini. Kerusakan masa depan generasi muda bukan sekedar ancaman nyata, namun sudah terjadi di depan mata kita. Kondisi mental anak anak di bawah umur harus menjadi perhatian serius kita semua, tidak hanya pemerintah beserta para pemangku kebijakan, namun juga kita sebagai orang tua harus berbuat untuk menjaga masa depan anak cucu kita.
Oleh sebab itu jika kita tidak berani menentang penjajahan maindset, maka kegagalan masa depan generasi muda kita akan menjadi kenyataan.
Momentum peringatan Hari Kartini dapat menjadi langkah awal berjuang menghapus penjajahan paradigma dan pembodohan maindset dengan berani perpikir kritis untuk membangun.
Berani menatap dan menyiapkan masa depan anak cucu kita. Berani menulis sejarah baik dan membuang sejarah lama yang usang.
Realitis dalam berpikir dan berpegang teguh pada hati Nurani. Setia serta berani berjuang untuk Negara, bangsa dan kepentingan masyarakat. Agar tidak ada lagi kegelapan paradigma, Habis Gelap Terbitlah Terang.


